Setiap kali kena tilang, saya selalu minta polisi langsung aja buatin surat tilang dan ke pengadilan untuk ngurus. Ada yang muji? Jarang. Kebanyakan bilang “Ngapain sidang2. Udah lebih mahal, harus repot. Tinggal kasih uang 50-100rb udah selesai.”
Ga salah. Bayangin udah harus bayar 2-3x lipat, harus ke pengadilan, nunggu lama tuh hakim kasih wejangan sambil ketawa-ketawa.
Tapi buat saya dengan melakukan hal tersebut, secara tidak sadar, kita melatih diri kita sendiri untuk menjadi “curang”
Saya percaya kalau menjadi “jahat” itu habit. Semua dari perkara-perkara kecil. Karena melakukan "kejahatan kecil" terkadang tidak punya konsekuensi apa-apa, sedikit demi sedikit, secara tidak sadar skala “jahat” kita menjadi naik. Sampai akhirnya kita menjadi kebal dan yang awalnya masih merasa sedikit berdosa, lama kelaman jadi hilang rasa berdosanya.
Begitulah juga dengan yang kalian lihat di media sekarang. Koruptor, Pengusaha bej*t, bahkan orang di sekitar kita yang kita anggap sepertinya orang baik. Setidaknya dulu. Tapi kita nggak tahu proses yang terjadi dia dalam waktu setahun, dua tahun, lima tahun.
“Kok bisa ya, dia tuh orangnya baik lho”
Ada satu ayat di Alkita yang bilang. Ibarat kita harus pilih 2 jalan: (1) Jalan yang sempit, berbatu, tapi diujung jalan ada kelegaan. (2) Jalan yang lebar, licin, tapi diujung jalan ada petaka.
Mana yang kamu pilih? Di depan mata, kita seringkali suka memilih jalan lebar, tapi kita ga tahu apa apa di ujung jalan.
Ini yang jadi “cobaan” buat kita setiap hari. Kalau udah salah, terima konsekuensinya, jgn mencari jalan pintas. Karena jalan pintas bikin kita jadi “jahat” sedikit demi sedikit.